Artikel Islami

PERSIAPAN MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN

Hiruk pikuk dunia yang begitu nyata sering membuat kita, sering lalai akan kehidupan akhirat, yang kekal abadi, padahal kita sudah mengetahui bahwasanya di akhirat cuman hanya ada dua tempat persinggahan akhir, yaitu syurga dan neraka.

 

Kita sebagai kaum muslimin, hendaknya mengetahui b1322ahwa salah satu nikmat yang banyak dan harus kita syukuri salah satunya adalah di tundanya ajal kita dan disampaikannya kita dibulan Ramadhan. Tentunya jika kita menyadari banyaknya tumpukan dosa yang menggunung yang kita lakukan, maka pastilah kita sangat berharap untuk dapat menjumpai bulan Ramadhan dan mereguk berbagai manfaat di dalamnya.

Bersyukurlah atas nikmat ini. Betapa Allah ta’ala senantiasa melihat kemaksiatan kita sepanjang tahun, tetapi Dia menutupi aib kita, memaafkan dan menunda kematian kita sampai bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan.

Saat ditulisnya artikel ini Ramadhan akan datang kurang lebih 37 hari lagi, terlihat banyak kaum muslimin yang berdoa, supaya dipertemukan dengan bulan yang penuh barakah ini, dan ini merupakan sesuatu yang baik, namun ada sebagian  dari mereka berdoa tersebut  termotivasi dengan hadist-hadis yang tidak shohih.

 

Terlepas dari itu semua, hal ini karena mereka mengetahui keutamaanya bulan Ramadhan, dan kita sering juga merasa harap-harap cemas, apakah kita ketemu dengan Ramadhan yang mulia ini, atau tidak, perasaan ini akan muncul begitu dahsyatnya pada diri-diri kita apabila kita mendengar berita duka dari saudara, teman dekat, teman jauh, rekan kerja, rekan kampus, atau bahkan orangtua dan anak-anak kita, yang mendapat musibah kematian tersebut.

Pertanyaannya, kita sebagai seorang muslim atau tholabul ilmi adalah, Adakah bekal ilmu syar’i kita terhadap hukum-hukum seputar Ramadhan? Sudahkah kita mengulanng ulang pelajaran-pelajaran yang terkait dengan hukum seputar ramadhan, apabila jawabannya belum, maka lakukanlah wahai saudaraku seiman. Baca buku-buku yang ditulis para ulama yang mahsyur atau para ustadz-ustadz yang rujukannya berlandaskan alqur’an dan sunnah. Atau hadirilah kajian-kajian atau dauroh dimesjid-mesjid sekitar kita, atau dengarkan rekaman-rekamannya. Mudah-mudahan allah membimbing kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang taqwa.

 

Waffaqaniyallahu wa iyyakum.

 

Rumbai Pesisir, Pekanbaru, 23 Rajab 1438 H

SEMINAR TENTANG LGBT

smpjannatulfirdaus.net, Pekanbaru – SMP Islam Plus Jannatul Firdaus mengadakan kegiatan seminar tentang materi LGBT  Pengertian LGBT itu sendiri adalah sebuah singkatan yang memiliki arti Lesbian, Gay, Bisexual dan juga Transgender. Penjelasan materi tersebut disampai kan langsung oleh Bapak Drg. Akmal Hamdi yang bersedia memberikan ilmunya kepada anak-anak SMP Islam Plus Jannatul Firdaus.IMG_3181
para santri dan Ust sangat antusias mendengarkan dan menyimak materi yang diberikan, setelah Bapak Akmal menjelaskan materi tersebut.  anak-anak dan ust SMP Islam Plus Jannatul Firdaus antusias ingin menanyakan tentang LGBT tersebut.

1101000411010003

Dan sudah sangatlah jelas kalau Hukum LGBT didalam agama islam ini sangatlah dilarang dan juga haram, bagaimana jadinya kalau semua orang menyukai sesama jenis pastinya sudah sangat menyimpang dari fitrah manusia itu sendiri manusia akan musnah karena manusia tidak mau lagi untuk melestarikan keturuannya, apabila anda sekarang ini termasuk dalam golongan LGBT segeralah bertaubat agar anda bisa mendapat ampunan dari Allah sholallah alaihi wasallam atas dosa besar yang anda lakukan.

 

SMP ISLAM PEKANABRU- Nikmat Aman Lebih Baik Daripada Kesehatan

SMP ISLAM PEKANABRU

Sedikit renungan bagi kita bahwa nikmat kita sekarang sangat banyak, nikmat sehat dan yang paling penting nikmat rasa aman

Ada istilah,

“Health is not everything, but without it everything is nothing”

Begitulah orang menilai pentingnya kesehatan bagi manusia. Sedikit renungan bagi kita bahwa nikmat kita sekarang sangat banyak, nikmat sehat dan yang paling penting nikmat rasa aman. Kita mendapat semuanya akan tetapi saudara kita yang dalam suasana mencekam dan perang seperti di Suriah atau Palestina tidak mendapatkannnya terutama rasa aman.

Dalam hadist dijelaskan bahwa ada dua nikmat yang sering kita lalaikan yaitu kenikmatan sehat dan waktu luang .
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412).

Akan tetapi nikmat yang paling nikmat adalah adanya rasa aman, oleh karena itu Allah menyebutkan bahwa ujian yang disebutkan pertama kali adalah ujian rasa takut (yang sedikit), sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit [1] ketakutan, [2] kelaparan, [4]kekurangan harta, [5] jiwa, dan buah-buahan“. (QS. Al-Baqarah: 155).

Rasa Aman lebih baik dari nikmat sehat dan waktu luang. Ar-Razi rahimahullah berkata,

سئل بعض العلماء: الأمن أفضل أم الصحة؟ فقال: الأمن أفضل، والدليل عليه أن شاة لو انكسرت رجلها فإنها تصح بعد زمان ولو أنها ربطت في موضع وربط بالقرب منها ذئب فإنها تمسك عن العلف ولا تتناوله إلى أن تموت، وذلك يدل على أن الضرر الحاصل من الخوف أشد من الضرر الحاصل من ألم الجَسَد

“Sebagian ulama ditanya, apakah rasa aman lebih baik dari kesehatan? Maka jawabannya rasa aman labih baik. Dalilnya adalah seandainya kambing kakiknya patah maka akan sembuh beberapa waktu lagi… kemudian seandainya kambing diikat pada usatu tempat dekat dengan serigala, maka ia tidak akan makan sampai mati. Hal ini menunjukkah bahwa bahaya yang akibat rasa takut lebih besar daripada rasa sakit di badan.” (Tafsir al-Kabir19/107)

Kita harus banyak bersyukur karena semua nikmat ini ada pada diri kita, karena ada tiga pokok kenikmatan yaitu sehat, aman dan ada makanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan [1] sehat badannya,[2] aman pada keluarganya, dia [3]memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah, no: 4141, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir no. 5918)

Sudah selayaknya kita bersyukur yang banyak karena negara kita aman. Kita banyak-banyak berdoa untuk pemimpin, pemimpin yang bisa membawa negeri ini ke arah yang lebih baik dan masyarakatnya bisa beragama dengan baik.

Demikian semoga bermanfaat

Penulis: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslimah.or.id

PENGERTIAN ‘AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Pengertian Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Minggu, 18 Nopember 2012 22:22:16 WIB

PENGERTIAN ‘AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

A. Definisi ‘Aqidah
‘Aqidah (اَلْعَقِيْدَةُ) menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu(التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat.[1]

Sedangkan menurut istilah (terminologi): ‘aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.

Jadi, ‘Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid[2] dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.[3]

B. Objek Kajian Ilmu ‘Aqidah[4] ‘Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilmu -sesuai konsep Ahlus Sunnah wal Jama’ah- meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam, masalah ghaibiyyaat (hal-hal ghaib), kenabian, takdir, berita-berita (tentang hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar hukum yang qath’i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap ahlul ahwa’ wal bida’ (pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah), semua aliran dan sekte yang menyempal lagi menyesatkan serta sikap terhadap mereka.

Disiplin ilmu ‘aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya, dan nama-nama tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah (golongan-golongan) lainnya.

• Penamaan ‘Aqidah Menurut Ahlus Sunnah:
Di antara nama-nama ‘aqidah menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:

1. Al-Iman
‘Aqidah disebut juga dengan al-Iman sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ‘aqidah membahas rukun iman yang enam dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana penyebutan al-Iman dalam sebuah hadits yang masyhur disebut dengan hadits Jibril Alaihissallam. Dan para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut istilah ‘aqidah dengan al-Iman dalam kitab-kitab mereka.[5]

2. ‘Aqidah (I’tiqaad dan ‘Aqaa-id)
Para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut ilmu ‘aqidah dengan istilah ‘Aqidah Salaf: ‘Aqidah Ahlul Atsar dan al-I’tiqaad di dalam kitab-kitab mereka.[6]

3. Tauhid
‘Aqidah dinamakan dengan Tauhid karena pembahasannya berkisar seputar Tauhid atau pengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Shifat. Jadi, Tauhid merupakan kajian ilmu ‘aqidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya. Oleh karena itulah ilmu ini disebut dengan ilmu Tauhid secara umum menurut ulama Salaf.[7]

4. As-Sunnah
As-Sunnah artinya jalan. ‘Aqidah Salaf disebut As-Sunnah karena para penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum di dalam masalah ‘aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur (populer) pada tiga generasi pertama.[8]

5. Ushuluddin dan Ushuluddiyanah
Ushul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah yang qath’i serta hal-hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama.[9]

6. Al-Fiqhul Akbar
Ini adalah nama lain Ushuluddin dan kebalikan dari al-Fiqhul Ashghar, yaitu kumpulan hukum-hukum ijtihadi.[10]

7. Asy-Syari’ah
Maksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-masalah ‘aqidah).[11]

Itulah beberapa nama lain dari ilmu ‘Aqidah yang paling terkenal, dan adakalanya kelompok selain Ahlus Sunnah menamakan ‘aqidah mereka dengan nama-nama yang dipakai oleh Ahlus Sunnah, seperti sebagian aliran Asyaa’irah (Asy’ariyyah), terutama para ahli hadits dari kalangan mereka.

• Penamaan ‘Aqidah Menurut Firqah (Sekte) Lain:
Ada beberapa istilah lain yang dipakai oleh firqah (sekte) selain Ahlus Sunnah sebagai nama dari ilmu ‘aqidah, dan yang paling terkenal di antaranya adalah:

1. Ilmu Kalam
Penamaan ini dikenal di seluruh kalangan aliran teologis mu-takallimin (pengagung ilmu kalam), seperti aliran Mu’tazilah, Asyaa’irah[12] dan kelompok yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena ilmu Kalam itu sendiri merupa-kan suatu hal yang baru lagi diada-adakan dan mempunyai prinsip taqawwul (mengatakan sesuatu) atas Nama Allah dengan tidak dilandasi ilmu.

Dan larangan tidak bolehnya nama tersebut dipakai karena bertentangan dengan metodologi ulama Salaf dalam menetapkan masalah-masalah ‘aqidah.

2. Filsafat
Istilah ini dipakai oleh para filosof dan orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena dasar filsafat itu adalah khayalan, rasionalitas, fiktif dan pandangan-pandangan khurafat tentang hal-hal yang ghaib.

3. Tashawwuf
Istilah ini dipakai oleh sebagian kaum Shufi, filosof, orientalis serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam ‘aqidah, karena merupakan pe-namaan yang baru lagi diada-adakan. Di dalamnya terkandung igauan kaum Shufi, klaim-klaim dan pengakuan-pengakuan khurafat mereka yang dijadikan sebagai rujukan dalam ‘aqidah.

Penamaan Tashawwuf dan Shufi tidak dikenal pada awal Islam. Penamaan ini terkenal (ada) setelah itu atau masuk ke dalam Islam dari ajaran agama dan keyakinan selain Islam.

Dr. Shabir Tha’imah memberi komentar dalam kitabnya, ash-Shuufiyyah Mu’taqadan wa Maslakan: “Jelas bahwa Tashawwuf dipengaruhi oleh kehidupan para pendeta Nasrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu domba dan berdiam di biara-biara, dan ini banyak sekali. Islam memutuskan kebiasaan ini ketika ia membebaskan setiap negeri dengan tauhid. Islam memberikan pengaruh yang baik terhadap kehidupan dan memperbaiki tata cara ibadah yang salah dari orang-orang sebelum Islam.”[13]

Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir (wafat th. 1407 H) rahimahullah berkata di dalam bukunya at-Tashawwuful-Mansya’ wal Mashaadir: “Apabila kita memperhatikan dengan teliti tentang ajaran Shufi yang pertama dan terakhir (belakangan) serta pendapat-pendapat yang dinukil dan diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab Shufi baik yang lama maupun yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas perbedaan yang jauh antara Shufi dengan ajaran Al-Qur-an dan As-Sunnah. Begitu juga kita tidak pernah melihat adanya bibit-bibit Shufi di dalam perjalanan hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat beliau Radhiyallahu anhum, yang mereka adalah (sebaik-baik) pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari para hamba-Nya (setelah para Nabi dan Rasul). Sebaliknya, kita bisa melihat bahwa ajaran Tashawwuf diambil dari para pendeta Kristen, Brahmana, Hindu, Yahudi, serta ke-zuhudan Budha, konsep asy-Syu’ubi di Iran yang merupakan Majusi di periode awal kaum Shufi, Ghanusiyah, Yunani, dan pemikiran Neo-Platonisme, yang dilakukan oleh orang-orang Shufi belakangan.”[14]

Syaikh ‘Abdurrahman al-Wakil rahimahullah berkata di dalam kitabnya, Mashra’ut Tashawwuf: “Sesungguhnya Tashawwuf itu adalah tipuan (makar) paling hina dan tercela. Syaithan telah membuat hamba Allah tertipu dengannya dan memerangi Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya Tashawwuf adalah (sebagai) kedok Majusi agar ia terlihat sebagai seorang yang ahli ibadah, bahkan juga kedok semua musuh agama Islam ini. Bila diteliti lebih mendalam, akan ditemui bahwa di dalam ajaran Shufi terdapat ajaran Brahmanisme, Budhisme, Zoroasterisme, Platoisme, Yahudi, Nasrani dan Paganisme.”[15]

4. Ilaahiyyat (Teologi)
Illahiyat adalah kajian ‘aqidah dengan metodologi filsafat. Ini adalah nama yang dipakai oleh mutakallimin, para filosof, para orientalis dan para pengikutnya. Ini juga merupakan penamaan yang salah sehingga nama ini tidak boleh dipakai, karena yang mereka maksud adalah filsafatnya kaum filosof dan penjelasan-penjelasan kaum mutakallimin tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala menurut persepsi mereka.

5. Kekuatan di Balik Alam Metafisik
Sebutan ini dipakai oleh para filosof dan para penulis Barat serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena hanya berdasar pada pemikiran manusia semata dan bertentangan dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah.

Banyak orang yang menamakan apa yang mereka yakini dan prinsip-prinsip atau pemikiran yang mereka anut sebagai keyakinan sekalipun hal itu palsu (bathil) atau tidak mempunyai dasar (dalil) ‘aqli maupun naqli. Sesungguhnya ‘aqidah yang mempunyai pengertian yang benar yaitu ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bersumber dari Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih serta Ijma’ Salafush Shalih.

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M] _______
Footnote
[1]. Lisaanul ‘Arab (IX/311: عقد) karya Ibnu Manzhur (wafat th. 711 H) t dan Mu’jamul Wasiith (II/614: عقد).
[2]. Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat Allah.
[3]. Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 11-12) oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql, cet. II/ Daarul ‘Ashimah/ th. 1419 H, ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 13-14) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dan Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqiidah oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql.
[4]. Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 12-14).
[5]. Seperti Kitaabul Iimaan karya Imam Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam (wafat th. 224 H), Kitaabul Iimaan karya al-Hafizh Abu Bakar ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah (wafat th. 235 H), al-Imaan karya Ibnu Mandah (wafat th. 359 H) dan Kitabul Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H), رحمهم الله .
[6]. Seperti ‘Aqiidatus Salaf Ash-haabil Hadiits karya ash-Shabuni (wafat th. 449 H), Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 5-6) oleh Imam al-Lalika-i (wafat th. 418 H) dan al-I’tiqaad oleh Imam al-Baihaqi (wafat th. 458 H), رحمهم الله.
[7]. Seperti Kitaabut Tauhiid dalam Shahiihul Bukhari karya Imam al-Bukhari (wafat th. 256 H), Kitaabut Tauhiid wa Itsbaat Shifaatir Rabb karya Ibnu Khuzaimah (wafat th. 311 H), Kitaab I’tiqaadit Tauhiid oleh Abu ‘Abdillah Muhammad bin Khafif (wafat th. 371 H), Kitaabut Tauhiid oleh Ibnu Mandah (wafat th. 359 H) dan Kitaabut Tauhiid oleh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (wafat th. 1206 H), رحمهم الله.
[8]. Seperti kitab as-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal (wafat th. 241 H), as-Sunnah karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (wafat th. 290 H), as-Sunnah karya al-Khallal (wafat th. 311 H) dan Syarhus Sunnah karya Imam al-Barba-hari (wafat th. 329 H), رحمهم الله.
[9]. Seperti kitab Ushuuluddin karya al-Baghdadi (wafat th. 429 H), asy-Syarh wal Ibaanah ‘an Ushuuliddiyaanah karya Ibnu Baththah al-Ukbari (wafat th. 387 H) dan al-Ibaanah ‘an Ushuuliddiyaanah karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari (wafat th. 324 H), رحمهم الله.
[10]. Seperti kitab al-Fiqhul Akbar karya Imam Abu Hanifah rahimahullah (wafat th. 150).
[11]. Seperti kitab asy-Syarii’ah oleh al-Ajurri (wafat th. 360 H) dan al-Ibaanah ‘an Syarii’atil Firqah an-Naajiyah karya Ibnu Baththah.
[12]. Seperti Syarhul Maqaashid fii ‘Ilmil Kalaam karya at-Taftazani (wafat th. 791 H).
[13]. Ash-Shuufiyyah Mu’taqadan wa Maslakan (hal. 17), dikutip dari Haqiiqatuth Tashawwuf karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan (hal. 18-19).
[14]. At-Tashawwuf al-Mansya’ wal Mashaadir (hal. 50), cet. I/ Idaarah Turjumanis Sunnah, Lahore-Pakistan, th. 1406 H.
[15]. Mashra’ut Tashawwuf (hal. 10), cet. I/ Riyaasah Idaaratil Buhuuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’, th. 1414 H.

MANAJEMEN UMUR SEORANG MUSLIM

BAB I

Di ambil dari sebuah buku kecil karangan Muhammad Hamid Sharan, yang berjudul MANAJEMEN UMUR SEORANG MUSLIM sepertinya sangat menarik kita telaah walau singkat.

Tujuan hidup ini bukan sekedar untuk makan dan minum, tapi lebih dari itu.! Jika memang sesederhana itu tujuan hidup kita, alangkah remehnya hidup ini.! Apa perbedaan antara kita dengan hewan dan orang kafir. Tahukah anda apa tujuan hidup mereka? Tujuan hidup mereka di dunia ini hanya makan,minum,dan bersenang-senang. Ini tergambar dalam firman Allah subhanahuwata’ala yang berbunyi, ” Sungguh, Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan ( dunia ) dan mereka makan seprti hewan; dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka. ( QS: Muhammad : 12 )

Tujuan kita diciptakan dan segala yang ada ditundukkan untuk kita adalah supaya menyembah Allah. Membendung keinginan hawa nafsu setan atau dengan bahasa bisnis adalah berinvestasi sebanyak mungkin kebaikan sebelum tibanya ajal. Dengan banyaknya investasilah derajat kita ditentukan nantinya.

1. ARTI PANJANG UMUR

Mengenai arti ” Panjang Umur ” ini ulama berbeda pendapat.

Pertama, keberkahan, yaitu ornag yang mengisi hidupnya dengan amal kebaikan sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat ini.

Kedua, panjang umurnya, ini seperti yang tertulis dalam lembaran Malaikat yang di dalamnya ada permisalan, seperti dikatakan kepada Malaikat, ” Umur fulan mencapai seratus tahun jka diberikan rahmat kepadanya, dan jka tidak hanya enam puluh tahun.” Dan inilah ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah tabarakallahu ta’ala.

Ketiga, dingat-ingat kebaikannya sepeninggalnya, ini pendapat Al-Qadhi ‘iyadh, meskipun pendapat ini di daifkan oleh imam An Nawawi, tapi tidak ada salahnya kita mengutipnya.

2. ADA PERTANYAAN? BOLEHKAH BERDOA MEMOHON PANJANG UMUR?

Pertanyaan ini menimbulkan perbedaan dikalangan para ulama; antara kelompok yang membolehkan dan kelompok yang melarangnya.

Syekh Na’im hafidzahullah, dari dari beberapa pandangan para ulama beliau bahwa do’a minta dipanjangkan umur hukumnya mubah, berdasarkan pada apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bahwa belia mendoakan panjang umur kepada pembantunya Anas radhiallahu’anhu meskipun, yang lebih utama yang lebih sesuai dengan sunnah adalah meninggalkannya dan membataskan diri hanya bedoa diselamatkan dari siksa kubur, api neraka, dan mendapat pahala surga ini sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada istrinya Hafsyah radhiallahu’anha.

Bagi seseorang yang menghendaki dipanjangkan umurnya ataupun memohon perkara-perkara yang elbih bersifat keduniaan seyogyanya ditambahkan di dalam doanya permohonan diberikannya keberkahan,dijaga dan dapat menjalankan amalan-amalan terpuji. wallahu’alam

free-desktop-wallpaper-landscape_1024x768

Lihat Bekas Jejak Kehidupan Kita

(bersambung )

 BAB II

AMALAN YANG MEMPERPANJANG UMUR

A. Memperpanjang Umur Dengan Akhlak Mulia

1. Bersilahturahmi

2. Berbudi Mulia

3. Baik Kepada Tetangga

1. SILAHTURAHMI

Abu Hurairah radhiallahu’anhu mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda,” Barangsiapa diberikan kesenangan dengan dilapangkan rezkinya dan di akhirkan ( di kenang ) nasabnya, hendaklah ia menjalin tali silahturahmi.” ( HR. Bukhary dan Muslim )

Dari Abdullah bin Ams’ud radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,” Silahturahmi memanjangkan umur.” ( Shahih Al-Jami’ )

Silahturahmi adalah pilar-pilar keutamaan akhlak yang sangat dianjurkan, diperintahkan dan dilarang memutusnya oleh ajaran Islam. Allah tabarakallahu ta’ala memerintahkan kepada hamba-Nya untuk menyambung tali silahturahmi dalam Alqur’an sebanyak sembilan belas ayat. Dia mengancam bagi siapapun yang memutuskannya dengan celaan dan siksaan dengan tiga ayat. Untuk itulah ulama salaf sangat menjaga silahturahmi di antara mereka, meskipun cukup sulit untuk melakukannya, karena terbatsanya sarana komunikasi waktu itu.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda,” Sambunglah silahturahmi kalian, meskipun hanya dengan ucapan salam.” ( Shahih Al-Jami’)

Maka berbagai macam cara kita bisa menyambung tali silahturahmi baik melalui telepon,surat,emai,dan media sosial dan lain sebagainya walau hanya dengan mengucapkan, SALAM.!

2.BERBUDI MULIA

Dari Aisyah radhiallahu’anha Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda kepadanya,” Barangsiapa memberikan belas kasihan sungguh ia telah memberikan keberuntungan dunia dan akhiratnya, sedangkan barangsiapa menyambung silahturahmi, berbudi mulia dan beakhlak baik kepada tetangganya maka itu dapat memakmurkan rumah dan memperpanjang umurnya.” ( Shahih Al-Jami’)

Dari Abu Darda’ radhiallahu’anhu Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda,” Tidak ada timbangan pahala orang mukmin yang lebih berat pada hari kiamat melebihi pahala orang yang berbudi mulia,( dan sebaliknya)Allah sangat membenci bicara kotor.” ( HR. Turmidzi)

 

PANDUAN BERQURBAN

domba qurbanSaat ini Rumaysho.com akan menampilkan panduan qurban secara ringkas. Pembahasan dimulai dari hukum qurban, hikmah qurban, ketentuan hewan qurban dan aturan dalam penyembelihan, serta ditambahkan dengan kebiasaan keliru di masyarakat yang biasa menjual kulit qurban. Moga-moga yang ingin berqurban tahun ini bisa mendapat panduan bermanfaat.

Secara bahasa udhiyah berarti kambing yang disembelih pada waktu mulai akan siang dan waktu setelah itu. Ada pula yang memaknakan secara bahasa dengan kambing yang disembelih pada Idul Adha. Sedangkan menurut istilah syar’i, udhiyah adalah sesuatu yang disembelih dalam rangka mendekatkan diri pada Allah Ta’ala pada hari nahr (Idul Adha) dengan syarat-syarat yang khusus.

Istilah qurban lebih umum dari udhiyah. Qurban adalah segala bentuk pendekatan diri pada Allah baik berupa penyembelihan atau selainnya. Kaitan udhiyah dan qurban yaitu keduanya sama-sama bentuk pendekatan diri pada Allah. Jika bentuk qurban adalah penyembelihan, maka itu lebih erat kaitannya.

Pensyariatan Qurban

Udhiyah (qurban) pada hari nahr (Idul Adha) disyariatkan berdasarkan beberapa dalil, di antaranya ayat (yang artinya), “Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2). Di antara tafsiran ayat ini adalah “berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)”.(Lihat Zaadul Masiir, 9: 249)

Keutamaan Qurban

Tak diragukan lagi, udhiyah adalah ibadah pada Allah dan pendekatan diri pada-Nya, juga dalam rangka mengikuti ajaran Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kaum muslimin sesudah beliau pun melestarikan ibadah mulia ini. Tidak ragu lagi ibadah ini adalah bagian dari syari’at Islam. Hukumnya adalah sunnah muakkad (yang amat dianjurkan) menurut mayoritas ulama. Ada beberapa hadits yang menerangkan fadhilah atau keutamaannya, namun tidak ada satu pun yang shahih. Ibnul ‘Arobi dalam ‘Aridhotil Ahwadzi (6: 288) berkata, “Tidak ada hadits shahih yang menerangkan keutamaan udhiyah. Segelintir orang meriwayatkan beberapa hadits yang ajiib (yang menakjubkan), namun tidak shahih.” (Lihat Fiqhul Udhiyah, hal. 9)

Ibnul Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan udhiyah.”

Hukum Qurban

Hukum qurban adalah sunnah (dianjurkan, tidak wajib) menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama). Dalil yang mendukung pendapat jumhur adalah hadits dari Ummu Salamah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika telah masuk 10 hari pertama dari Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berqurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut kepala dan rambut badannya (diartikan oleh sebagian ulama: kuku) sedikit pun juga.” (HR. Muslim). Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini adalah dalil bahwasanya hukum udhiyah tidaklah wajib karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian ingin menyembelih qurban …”. Seandainya menyembelih udhiyah itu wajib, beliau akan bersabda, “Janganlah memotong rambut badannya hingga ia berqurban (tanpa didahului dengan kata-kata: Jika kalian ingin …, pen)”.” (Disebutkan oleh Al Baihaqi dalam Al Kubro).

Dari Abu Suraihah, ia berkata, “Aku pernah melihat Abu Bakr dan ‘Umar tidak berqurban.” (HR. Abdur Rozaq). Ibnu Juraij berkata bahwa beliau berkata kepada ‘Atho’, “Apakah menyembelih qurban itu wajib bagi manusia?” Ia menjawab, “Tidak. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban.” (HR. Abdur Rozaq)

Niatan Qurban untuk Mayit

Para ulama berselisih pendapat mengenai kesahan qurban untuk mayit jika bukan karena wasiat. Dalam madzhab Syafi’i, qurbannya tidak sah kecuali jika ada wasiat dari mayit. Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al Minhaj, “Tidak sah qurban untuk orang lain selain dengan izinnya. Tidak sah pula qurban untuk mayit jika ia tidak memberi wasiat untuk qurban tersebut.”

Yang masih dibolehkan adalah berqurban untuk mayit namun sebagai ikutan. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya termasuk yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Dasarnya adalah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban untuk dirinya dan keluarganya, termasuk di dalamnya yang telah meninggal dunia. (Lihat Talkhish Kitab Ahkamil Udhiyah wadz Dzakaah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 12-13)

Waktu Penyembelihan Qurban

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih qurban sebelum shalat (Idul Adha), maka ia berarti menyembelih untuk dirinya sendiri. Barangsiapa yang menyembelih setelah shalat (Idul Adha), maka ia telah menyempurnakan manasiknya dan ia telah melakukan sunnah kaum muslimin.” (HR. Bukhari)

Sedangkan mengenai waktu akhir dari penyembelihan qurban, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah menjelaskan, “Yang hati-hati bagi seseorang muslim bagi agamanya adalah melaksanakan penyembelihan qurban pada hari Idul Adha (10 Dzulhijjah) sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan dan hal ini lebih selamat dari perselisihan para ulama yang ada. Jika sulit melakukan pada waktu tersebut, maka boleh melakukannya pada 11 dan 12 Dzulhijjah sebagaimana pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Wallahu a’lam.” Sedangkan yang menyatakan bahwa waktu penyembelihan pada seluruh hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) dibangun di atas riwayat yang dho’if. (Lihat Fiqhul Udhiyah, hal. 119)

Pembagian Sepertiga dari Hasil Qurban

Hasil sembelihan qurban dianjurkan dimakan oleh shohibul qurban. Sebagian lainnya diberikan kepada faqir miskin untuk memenuhi kebutuhan mereka pada hari itu. Sebagian lagi diberikan kepada kerabat agar lebih mempererat tali silaturahmi. Sebagian lagi diberikan pada tetangga dalam rangka berbuat baik. Juga sebagian lagi diberikan pada saudara muslim lainnya agar semakin memperkuat ukhuwah.” (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 5612, 11: 423-424)

Adapun daging hasil sembelihan qurban, maka lebih utama sepertiganya dimakan oleh shohibul qurban; sepertiganya lagi dihadiahkan pada kerabat, tetangga, dan sahabat dekat; serta sepertiganya lagi disedekahkan kepada fakir miskin. Namun jika lebih/ kurang dari sepertiga atau diserahkan pada sebagian orang tanpa lainnya (misalnya hanya diberikan pada orang miskin saja tanpa yang lainnya, pen), maka itu juga tetap diperbolehkan. Dalam masalah ini ada kelonggaran.” (Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah no. 1997, 11: 424-425)

Ketentuan Hewan Qurban

Hewan yang digunakan untuk qurban adalah unta, sapi (termasuk kerbau), dan kambing.

Seekor kambing hanya untuk qurban satu orang dan boleh pahalanya diniatkan untuk seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia. Seekor sapi boleh dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor unta untuk 10 orang (atau 7 orang menurut pendapat yang lainnya).

Sedangkan ketentuan umur yang mesti diperhatikan: (1) unta, umur minimal 5 tahun; (2) sapi, umur minimal 2 tahun, (3) kambing, umur minimal 1 tahun, (4) domba jadza’ah, umur minimal 6 bulan.

Yang paling dianjurkan sebagai hewan qurban adalah: (1) yang paling gemuk dan sempurna, (2) hewan qurban yang lebih utama adalah unta, kemudian sapi, kemudian kambing, namun satu ekor kambing lebih baik daripada kolektif dalam sapi atau unta, (4) warna yang paling utama adalah putih polos, kemudian warna debu (abu-abu), kemudian warna hitam, (5) berkurban dengan hewan jantan lebih utama dari hewan betina.

Cacat hewan qurban dibagi menjadi 3:

1- Cacat yang menyebabkan tidak sah untuk berqurban, ada 4:

Buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya
Sakit dan tampak jelas sakitnya
Pincang dan tampak jelas pincangnya
Sangat tua sampai-sampai tidak punya sumsum tulang

2- Cacat yang menyebabkan makruh untuk berqurban, ada 2:

Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong
Tanduknya pecah atau patah

3. Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan qurban (boleh dijadikan untuk qurban) namun kurang sempurna.

Selain 6 jenis cacat di atas atau cacat yang tidak lebih parah dari itu maka tidak berpengaruh pada status hewan qurban. Misalnya tidak bergigi (ompong), tidak berekor, bunting, atau tidak berhidung. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 2: 370-375)

Tuntunan Penyembelihan Qurban

1- Syarat hewan qurban, Yaitu hewan tersebut masih dalam keadaan hidup ketika penyembelihan, bukan dalam keadaan bangkai (sudah mati).

2- Syarat orang yang akan menyembelih: (1) berakal, baik laki-laki maupun perempuan, sudah baligh atau belum baligh asalkan sudah tamyiz, (2) yang menyembelih adalah seorang muslim atau ahli kitab (Yahudi atau Nashrani), (3) menyebut nama Allah ketika menyembelih.

Perhatian: Sembelihan ahlul kitab bisa halal selama diketahui kalau mereka tidak menyebut nama selain Allah. Jika diketahui mereka menyebut nama selain Allah ketika menyembelih, semisal mereka menyembelih atas nama Isa Al Masih, ‘Udzair atau berhala, maka pada saat ini sembelihan mereka menjadi tidak halal.

3- Syarat alat untuk menyembelih: (1) menggunakan alat pemotong, baik dari besi atau selainnya, baik tajam atau tumpul asalkan bisa memotong, (2) tidak menggunakan tulang dan kuku.

4- Adab dalam penyembelihan hewan: (1) berbuat baik terhadap hewan, (2) membaringkan hewan di sisi sebelah kiri, memegang pisau dengan tangan kanan dan menahan kepala hewan ketika menyembelih, (3) meletakkan kaki di sisi leher hewan, (4) menghadapkan hewan ke arah kiblat, (5) mengucapkan tasmiyah (basmalah) dan takbir.

Ketika akan menyembelih disyari’atkan membaca “bismillaahi wallaahu akbar, hadza minka wa laka” atau ”hadza minka wa laka ’annii atau ’an fulan (disebutkan nama shahibul qurban)” atau berdoa agar Allah menerima qurbannya dengan doa, ”Allahumma taqabbal minnii (Semoga Allah menerima qurbanku) atau min fulan (disebutkan nama shahibul qurban).

Sudah Berqurban Kok Malah Dijual?

Ketika Imam Ahmad di tanya tentang orang yang menjual daging qurban, ia terperanjat, seraya berkata, “Subhanallah, bagaimana dia berani menjualnya padahal hewan tersebut telah ia persembahkan untuk Allah tabaraka wa taala”.

Secara logika suatu barang yang telah anda berikan kepada orang lain bagaimana mungkin anda menjualnya lagi.

Imam Syafi’i juga berkata,” Jika ada yang bertanya kenapa dilarang menjual daging qurban padahal boleh dimakan? Jawabnya, hewan qurban adalah persembahan untuk Allah. Setelah hewan itu dipersembahkan untukNya, manusia pemilik hewan tidak punya wewenang apapun atas hewan tersebut, karena telah menjadi milik Allah. Maka Allah hanya mengizinkan daging hewan untuk dimakan. Maka hukum menjualnya tetap dilarang karena hewan itu bukan lagi menjadi milik yang berqurban”. Oleh karena itu para ulama melarang menjual bagian apapun dari hewan qurban yang telah disembelih; daging, kulit, kikil, gajih, kepala dan anggota tubuh lainnya. Mereka melarangnya berdasarkan dalil, di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang menjual kulit hewan qurbannya maka qurbannya tidak diterima.” (HR. Hakim dan Baihaqi, shahih)

Hadis di atas sangat tegas melarang untuk menjual qurban sekalipun kulitnya karena berakibat kepada tidak diterimanya qurban dari pemilik hewan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Janganlah kalian jual daging hewan hadyu (hewan yang dibawa oleh orang yang haji ke Mekkah untuk disembelih di tanah haram), juga jangan dijual daging qurban. Makanlah dan sedekahkanlah serta pergunakan kulitnya.” (HR. Ahmad, mursal shahih sanad). Hadits ini juga tegas melarang menjual daging hewan qurban.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Nabi memerintahkanku untuk menyembelih unta hewan qurban miliknya, dan Nabi memerintahkan agar aku tidak memberi apapun kepada tukang potong sebagai upah pemotongan”. (HR. Bukhari). Hadits ini juga menunjukkan bahwa tidak boleh diberikan bagian apapun dari anggota tubuh hewan qurban kepada tukang potong sebagai imbalan atas kerjanya memotong hewan. Bila saja upah tukang potong tidak boleh diambilkan dari hewan qurban apatah lagi menjualnya kepada orang lain.

Begitu juga orang yang bekerja sebagai panitia qurban tidak boleh mengambil upah dari hewan qurban. Bila menginginkah upah mengurus qurban mintalah kepada pemilik qurban berupa uang.

Semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq. [Muhammad Abduh Tuasikal, Riyadh-KSA, 2 Dzulqo’dah 1433 H]

www.rumaysho.comdomba qurban

Mengapa Harus Sekolah Islam ?

Oleh   : Syahirul Alim, SEI, S.Pd, MM.Pd

Sebuah dilema bagi para orang tua yang sadar akan kualitas pendidikan buat putra puteri mereka ketika hendak menyekolahkan mereka, sekaligus juga tantangan bagi para pendidik muslim untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam. Sejatinya, kualitas pendidikan Islam harus lebih tinggi dari sekolah lainnya.  Islam sendiri sangat memberikan perhatian penuh pada masalah pendidikan. Bahkan bila kita hitung-hitung, di masa Nabi masih hidup, bayaran yang diberikan kepada para pengajar terbilang tinggi. Ketika perang Badar berakhir, ada banyak tawanan perang dari pihak Quraisy. Kepada mereka ini bila ingin bebas dari perbudakan, wajib mengajarkan 10 orang muslim sekedar bisa membaca dan menulis. Padahal harga budak cukup besar, barangkali bila dikurs di zaman ini bisa mencapai harga puluhan dan ratusan juta.

Tetapi harga yang tinggi itu oleh Rasulullah SAW sebanding dengan jasa mengajarkan baca tulis 10 orang saja. Jadi ini adalah tantangan bagi dunia pendidikan Islam. Apakah akan terus begini atau akan bangkit dan menjadi yang terbaik. Sementara di sisi lain, lembaga pendidikan non-Islam telah jauh mendahului. Dan kita semua tahu bahwa lembaga pendidikan dan sekolah adalah salah satu sarana paling efektif dalam menyebarkan seuatu ajaran. Itulah yang selalu dikerjakan oleh para penjajah dimana pun, yaitu membangun sekolah dan lembaga pendidikan. Sekolah-sekolah seperti ini sudah sangat berjasa dalam menyebarkan agama nasrani baik langsung atau tidak langsung. Artinya tidak harus semuanya masuk kristen, tetapi apa yang diajarkan dan disampaikan tidak akan jauh dari misi itu.

Ini sesuatu yang wajar sekali terjadi di negeri ini. Namun alhamdulillah, satu dua lembaga pendidikan di negeri ini sudah mampu mengejar ketertinggalan mereka dan meski belum mengungguli, paling tidak bisa menyamai prestasi mereka. Jadi tinggal anda memilih saja antara keduanya. Yang satu jelas milik nasrani dan telah punya peranan besar dalam menyebarkan paham mereka sedikti atau banyak, yang lain meski barangkali kualitasnya tidak setenar yang pertama, bukan berarti tidak baik. Kualitas pendidikan bukan ditentukan semata-mata oleh lembaganya saja, tetapi lebih dari itu juga kemampuan anak didiknya juga.

Setiap anak di lahirkan dalam keadaan fitrah, dan orang tuanyalah yang menjadikannya nasrani, yahudi dan atau majusi. Kutipan hadits di atas telah menjelaskan kepada kita semuanya bahwa anak kita sudah terlahir dalama keadaan fitrah, dan agama yang fitrah itu adalah islam yang jika kita melaksanakan ajarannya secara menyeluruh, maka seluruh problematika kehidupan akan terselesaikan dengan baik.

Kita sebagai orang tua mestinya tahu betul dan tentunya sangat mengidamkan generai penerus kita nanti adalah generasi yang dapat menjadi hamba Allah yang baik dan bermanfaat untuk kepentingan orang banyak. Oleh sebab itu di dalam memberikan pendidikan, hendaknya orang tua harus selektif dalam memilihnya, jangan sampai anak kita nantinya pandai saja, mereka hanya sukses secara materi saja. Namun lebih daripada itu, alangkah indahnya jika kita melihat anak kita sukses baik secara materi maupun immaterinya( akhlaqnya mulia ).

Berpangkal dari sinilah bahwa menyekolahkan anak di sekolah Islam menjadi sebuah keniscayaan bagi orang tua yang menginginkan anaknya menjadi Qurrrata a’yun, bermanfaat bagi sesamanya. Memilih sekolah yang berorientasi kepada Islam maka hal ini merupakan kewajiban kita sekaligus salah satu investasi kita selaku orang tua apabila kita sudah tiada (meninggal dunia).

Apakah kita tidak senang atau gembira dengan biaya yang kita keluarkan untuk pendidikan anak-anak kita, dari usaha kita banting tulang, peras keringat, pergi pagi pulang petang bahkan kadang larut malam bekerja demi mencari nafkah untuk keluarga, hal ini akan menjadi infaq/shodaqoh jariyah kita.

Apakah kita tidak senang atau gembira tatkala anak-anak kita menjadi anak yang cerdas dan bertaqwa (menjadi anak yang soleh) dengan pendidikan yang kita berikan kepadanya.

Apakah kita tidak senang atau gembira tatkala kita sakit anak-anak kita yang soleh itu datang menjenguk dan mendo’akan kesembuhan kita, apatah lagi ketika sakaratul maut menjemput kita, anak-anak kita membimbing kita mengucapkan kalimat thoyibah “ Laa ilaha illallah … “ dan nantinya ketika kita sudah tiada dan kita sudah berada di alam kubur mereka berziarah ke kubur kita dan selalu mendo’akan agar kita diampuni dosa-dosa kita oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan ditempatkan disisiNya.

Oleh karena itu dengan makin banyaknya sekolah-sekolah “bergengsi” jangan sampai kita salah memasukan anak kita disana, yang bisa jadi bukannya membawa kita kepada kebaikan dunia dan akhirat malah sebaliknya membawa kepada kehancuran yang pada akhirnya kita beserta keluarga berada dalam azab nerakanya Allah Subhanahu wa ta’ala. Ingatlah Firman Allah SWT :

“Jagalah dirimu dan keluargamu dari azab api neraka” ( QS. At-Tahrim : 6 )

Banyak sekolah-sekolah Islam yang bagus, baik dari segi sarana dan prasarana dan terlebih lagi kurikulumnya, yang dapat kita jadikan ladang amal kita dengan menyekolahkan anak-anak kita disana. Dengan demikian berarti kita telah ikut dalam usaha mempersiapkan generasi penerus kita yang beriman dan bertaqwa (IMTAQ) serta generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK) yang disinari cahaya Ilahi. Semoga niat baik dan usaha kita dalam memilih pendidikan untuk anak-anak kita diridhoi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Waspadai Sekolah Berlabel Islam yang Merusak

Ada sekolah berlabel Islam yang kurikulumnya jauh dari Islam bahkan anti Islam.  Oleh karena itu, kita harus mempelajari program dan visi misi sekolah. Terutama sekolah swasta. Perhatikan latar belakang para pengajarnya.

Sebagai contoh, Ma’had Al Zaitun di Indramayu Jawa Barat yang menjadi markas pengkaderan “NII” gadungan menafsirkan ayat-ayat quran sesuai kepentingannya.  Pesantren ini sangat berbahaya karena merusak aqidah dan syariat Islam. Sedangkan sekolah di lingkungan Jaringan Islam Liberal (JIL) menanamkan pemikiran sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberalism).

PIRI (Perguruan Islam Republik Indonesia) adalah sekolah Ahmadiyah yang menyesatkan aqidah Islam.  LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) nama baru dari Lemkari, Darul Hadits dan Islam Jama’ah yang dilarang pemerintah, merupakan lembaga propaganda pengkafiran umat Islam.
UIN, IAIN, STAIN, STAIS terdapat jurusan yang rentan tercemar pemikiran liberal dengan ilmu filsafatnya dan disinyalir menjadi target barisan pemurtadan.

Sekolah bukan satu-satunya pilar penentu masa depan anak. Banyak pilar lain: keluarga, kompetensi anak, bakat lahir, dan lingkungan sosial. Namun sekolah bisa berperan lebih dominan dalam membentuk karakter dan mengembangkan kompetensi anak. Jika realitas tidak begitu, disinilah peran orangtua. Jadi anak harus siap mental dan pikiran, sedangkan orangtua harus siap memenuhi segala kewajiban baik biaya maupun partisipasi aktif di sekolah.

sumber :

http://taqwimislamy.com/index.php/en/20-frontpage/478-mengapa-harus-sekolah-islam

Rencana Gedung SMP Jannatul Firdaus- SMP ISLAM PEKANBARU

Bismillah, dengan berjalannya waktu smp islam pekanbaru jannatul firdaus mulai dari peletakan batu pertama hingga saat ini alhamdullillah rencana pembanggunan gedung sekolah smp islam jannatul firdaus telah memasuki  tahap akhir, kami terus memohon doa dan dukungan dari kaum muslimin dan muslimat  agar pembangunan gedung untuk smp islam di pekanabru ini dapat berjalan sesuai rencana yang telah kami canangkan, saat ini kami juga telah menerima siswa didik baru tahun tahun ajaran 2015-2016, sekolah ini khusus anak laki-laki.

SMP ISLAM DI PEKANBARU saat ini memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat pekanbaru, kami berharap dengan kehadiran smp islam pekanbaru Jannatul Firmdaus ini dapat memberikan alternatif baru untuk para wali murid yang ingin menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah islam, yang sesuai dengan Alquran dan sunnah